Agar Balita Percaya Diri

Read More
Agar Balita Percaya Diri
Agar Balita Percaya Diri

Agar Balita Percaya Diri – Memiliki balita percaya diri berarti membuka kesempatan luas untuknya mengeksplorasi banyak hal. Sebab balita yang percaya diri akan merespons positif semua tawaran yang datang padanya. Mungkin ia akan senang dengan tawaran kursus ballet, bersemangat ikut acara mendongeng bersama serta tak sabar menanti lomba sepeda. Sebaliknya, balita tak percaya diri cenderung mengikuti Anda kemanapun Anda pergi, sulit beradaptasi dengan lingkungan baru serta kerap rewel akibat cemas yang berlebihan. Di masa mendatang, ia akan tumbuh menjadi pribadi yang tidak percaya diri.

Sebetulnya, kepercayaan diri untuk balita bisa dibangun sejak dini. Bahkan saat ini sudah banyak kok kursus kepribadian bagi balita usia 4 – 5 tahun di saat libur panjang. Tapi, tak harus selalu begitu, kok. Membangun kepercayaan diri bisa dimulai dari hal paling sederhana di rumah sendiri. Resep utama Agar Balita Percaya Diri ialah perasaan cukup diperhatikan, dicintai dan dihargai. Lalu dorong si kecil membangkitkan rasa percaya diri dengan mengikuti sejumlah aktivitas di luar rumah.

Dalam aktivitas sehari-hari, hindari untuk melabeli anak, menyudutkan serta membandingkan si kecil dengan anak lain. Saat ia menangis dan rewel saat acara keluarga, jangan cepat-cepat melabelinya sebagai anak cengeng yang Anda sebut-sebut kepada orang lain. Harga diri si kecil bisa hancur! Begitu juga jika ia berbuat kesalahan, seperti mengompol. “Kamu sih tadi enggak pipis waktu di rumah, kan gini deh jadinya. Repot semua.”

Hargai setiap si kecil berusaha melakuan tugasnya dengan benar. Misalnya ketika ia bisa makan sendiri tanpa rewel. Ketimbang Anda memarahinya saat ia salah, lebih baik rajin menghargainya saat ia melakukan hal yang benar atau saat ia bersikap baik. Bahkan ketika anak main games dan dia bisa menyelesaikan tantangan di tiap level, hargai saja. Jangan lantas menyudutkan “Ah kamu bisanya main games aja.”

Daftarkan balita ke sebuah klub aktivitas. Misalnya klub seni atau olahraga. Jangan paksa jika ia tak mau. Temani ia untuk melihat-lihat aktivitas klub dan dorong si kecil untuk ikut menikmati. Lakukan ini secara bertahap sesuai dengan perkembangan anak.

Demikianlah tadi ulasan kita kali ini tentang tips dan kiat-kiat Agar Balita Percaya Diri. Semoga bisa memberikan informasi dan menambah wawasan khususnya bagi kita para orang tua. Semoga bermanfaat, Terimakasih.

Perkembangan Otak Bayi

Read More
Perkembangan Otak Bayi
Perkembangan Otak Bayi

Apa yang dapat dipelajari bayi dalam kurun 0 – 5 tahun ? Sudah sering dikatakan bahwa otak bayi bekerja seperti spons yang menyerap segala sesuatunya. Ada pula yang mengajukan perumpamaan ibarat kertas kosong yang menunggu untuk diisi. Keduanya benar. Tahukah anda, bayi lahir dengan 100 miliar sel di otaknya.

Sebelum seorang anak mencapai usia lima tahun, tumbuh serabut-serabut panjang dan tipis di otak, yang disebut sinopsis, dan menghubungkan sel-sel otak. Keterkaitan inilah yang menjadi fondasi triliunan sirkuit otak, yang menjadi tempat penyimpanan keterampilan hidup seorang manusia.

Perkembangan Otak Bayi paling pesat terjadi di masa early childhood, yaitu usia 0 – 5 tahun. Ada lima tahapan pembelajaran anak dari usia 0 – 5 tahun.

  • Tahap pertama adalah pembelajaran secara fisik, yang meliputi perkembangan saraf bayi dan perkembangan motorik.
  • Tahap kedua adalah pembelajaran keterampilan sosial. Di sini, anak mulai diajarkan bahwa ia hidup di lingkungan sosial. Dengan anak sebayanya, ia perlu mulai mengerti arti bermain dan bekerja sama, selain juga berinteraksi dengan orang lain.
  • Tahap ketiga adalah tahap perkembangan kreativitas. Kenalkan anak kepada macam-macam kegiatan kreatif untuk anak seperti musik, seni gambar, menyanyi, drama, dan lain-lain.
  • Tahapan berikutnya, tahapan keempat, adalah pembelajaran perkembangan emosi. Mereka perlu diajarkan untuk mengenali emosi marah, sedih, senang, dan bagaimana mengatasinya.
  • Tahapan terakhir, kelima, adalah pembelajaran untuk perkembangan kognitif. Di sinilah, anak didorong dalam hal perkembangan IQ dan perkembangan kecerdasan. Salah satunya adalah melalui kemampuan berbahasa – bicara, menulis, dan membaca. Kemampuan berbahasa adalah kemampuan yang dianggap amat penting dalam perkembangan anak, karena kemampuan ini mencerminkan kemampuan berpikir seseorang.

Selanjutnya, Yayasan Reiner mengidentifikasi 10 hal yang bisa dilakukan orang tua dalam menunjang perkembangan putra-putrinya, antara lain: bersikap hangat dan penuh kasih sayang, merespon kebutuhan anak yang diekspresikan dengan bunyi, gerakan, dan ekspresi wajah, berbicara, membaca, dan menyanyi untuk anak, mendorong rasa ingin tahu dan eksplorasi, serta, yang tidak kalah penting, menjaga kesehatan diri sendiri sebagai orang tua – baik kesehatan fisik, maupun kesehatan pikiran.

Demikianlah tadi ulasan kita pada kesemptan kali ini mengenai Perkembangan Otak Bayi. Semoga dapat memberikan informasi dan menambah wawasan kita. Semoga bermanfaat, terimakasih.

Peran Seorang Ayah Untuk Pertumbuhan Anak

Read More
Peran Seorang Ayah Untuk Pertumbuhan Anak
Peran Seorang Ayah Untuk Pertumbuhan Anak

Apakah yang anda rasakan kita menjadi seorang Ayah untuk pertama kalinya? Senang atau malah merasa takut dan cemas? Semua perasaan itu wajar, kok. Punya anak dan menjadi seorang Ayah memang membahagiakan dan membanggakan. Akan tetapi perasaan takut juga kadang menghinggapi perasaan setiap Ayah, karena kini mereka memiliki tanggung jawab yang besar ketika bayi mereka lahir.

Misalnya, bagaimanakah hubungan mereka dengan istri nantinya? Dapatkah mereka menjadi Ayah yang baik untuk bayinya? Bagaimanakah mengatur masa depan si bayi kelak?

Jadi, Peran Seorang Ayah Untuk Pertumbuhan Anak adalah hal yang penting sekali, hal itu bahkan sudah dimulai ketika si anak baru saja lahir. Karena seorang Ayahlah yang akan menentukan bagaimanakah kehidupan mereka dewasa nantinya. Ketika baru lahir, bayi tidak hanya memerlukan ibu untuk menyusui, membelai, serta menggendong mereka, akan tetapi seorang Ayah juga memiliki peran penting setidaknya dalam memberikan kesempatan buat sang istri untuk beristirahat dan mengembalikan energi mereka dengan menggantikannya untuk menjaga si kecil.

Beberapa tahun terakhir ini, muncul trend baru, yang mana banyak para Ayah yang mengambil peran secara langsung dalam perawatan bayinya. Tidak hanya sekedar menggantikan popok, menggantikan pakaian, dan memberikan dot bayi saja, tetapi juga mengajak mereka bermain bahkan membawa jalan-jalan si mungil dengan kereta dorong.

Ketika bayi pertama kali lahir, otak berkembang dengan kecepatan tinggi. Ini adalah saatnya untuk para Ayah mengajarkan mereka tentang hubungan positif dengan orang lain. Menurut penelitian, Ayah memiliki peranan penting dalam perkembangan kecerdasan emosional anak, bahkan ketika mereka masih bayi. Karena ikatan emosional antara Ayah dan bayinya ditentukan oleh interaksi yang baik antara Ayah dan bayi itu sendiri.

Selain itu, cara bicara dan sentuhan yang Anda berikan kepada mereka, akan mempengaruhi perasaan mereka terhadap Anda. Oleh sebab itu, seberapa pun sibuknya diharapkan agar para Ayah dapat selalu meluangkan waktunya untuk mengasuh dan merawat bayi mereka. Sehingga keduanya memiliki waktu yang cukup untuk saling berinteraksi.

Demikianlah tadi ulasan kita kali ini tentang  Peran Seorang Ayah Untuk Pertumbuhan Anak, menjadi seorang Ayah adalah tantangan terbesar yang membutuhkan komitmen yang tinggi. Apabila Anda sudah melakukannya dengan baik maka hal itu akan memperkuat hubungan Anda dengan pasangan serta si kecil.

Meningkatkan Kosakata Si Kecil Dengan 6 Aktifitas Ini

Read More
Meningkatkan Kosakata Si Kecil Dengan 6 Aktifitas Ini
Meningkatkan Kosakata Si Kecil Dengan 6 Aktifitas Ini

Saat usia si buah hati masih bayi mungkin Anda belum mengerti apa yang ingin di sampaikan si kecil karena belum dapat berbicara. Namun saat si kecil beranjak besar dan mulai belajar bicara walaupun belum jelas maka Anda sering kali faham dan mengerti kata apa yang di maksudkan si kecil. Nah, apabila Anda mendapati si kecil tengah belajar bicara dan mulai berceloteh, maka Anda dapat menstimulasi kemampuan bicara si kecil dengan meningkatkan atau menambahkan kosakata agar dapat di ketahui si kecil. Lalu bagaimana caranya? Nah, untuk itu sebaiknya para orang tua melakukan 6 aktifitas berikut yang dapat Meningkatkan Kosakata Si Kecil. Simak selengkapnya di bawah ini :

  1. Percakapan

Saat si kecil telah beraktifitas bersama dengan teman sebanyanya atau orang lain, maka cobalah untuk melakukan percakapan dengannya. Contohnya dengan memberikan pertanyaan yang mana dapat membuat ia menjelaskan apa saja yang ia lakukan bersama temannya. Setelah Anda mengajukan pertanyaan maka si kecil akan berusaha menjawab dengan antusias apa saja yang telah di kerjakannya. Walaupun dalam penjelasannya mungkin akan kurang di mengerti, namun sebagai orang tua Anda di tuntut untuk membimbing ia bicara dan menyelipi beberapa kosakata baru di sela-sela percakapan

  1. Membaca

Sebisa mungkin ajak si kecil untuk terlibat dalam kegiatan membaca, walapun si kecil masih belum bisa membaca. Baca buku cerita yang mungkin terdapat gambar di dalamnya, setelah Anda membaca bersama cobalah untuk meminta si kecil menceritakan kembali apa yang tadi di baca bersama. Dengan metode ini diharapakan anak dapat mengembangkan kemampuan kosakatanya sehingga dapat menjadi referensi kata-kata yang bisa juga di kenakan saat ia berkatifitas sehari-hari

  1. Jangan Gunakan Bahasa Bayi

Saat anak mulai dapat berbicara dan berceloteh maka jangan lagi gunakan bahasa bayi yang di buat cadel. Sebaiknya ucapkan setiap kata dengan jelas dan benar, apabila si anak tidak mengerti maka Anda dapat memberikan penjelasan apa maksudnya

  1. Menggunakan Metode Nyanyian

Dengan menggunakan kata-kata yang berirama dalam bentuk nyanyian maka akan membantu anak mengembangkan kosakata mereka. Hal ini dipercaya paling efektif, selain dapat menambahkan pembendaharaan kata si kecil juga akan membuat si kecil dapat berimajinasi dan meningkatkan kreasi anak.

  1. Kosakata Hari Ini

Orang tua di harapkan dapat menambah kosakata si kecil setiap hari. Terapkan satu kata untuk satu hari dan dorong anak agar dapat menggunakan kata tersebut setiap hari dengan makna dan pengucapan yang jelas. Berikan kosakata baru setiap hari, apabila ia dapat melakukannya dengan baik maka Anda dapat memberikan hadiah atau sekedar makanan kecil agar ia bersemangat mempelajari kosakata baru lagi.

  1. Tunjukkan Dan Katakan

Apabila sesekali Anda mengajak si kecil berjalan-jalan. Maka biarakan si kecil mengamati hal-hal baru disekitarnya. Apabila ia menemukan hal yang baru maka cobalah untuk memberikan penjelasan tentang apa yang ia temukan. Tunjukan, katakan dan jelaskan apa saja yang menjadi perhatian si kecil. Dengan metode ini tanpa di sadari akan lebih memberikan kosakata yang lebih banyak dan juga lebih efektif.

Nah, itulah 6 aktifitas yang bisa Anda lakukan agar dapat Meningkatkan Kosakata Si Kecil yang mulai belajar bicara. Aktifitas mana pun yang Anda lakukan usahakan selalu berikan penjelasan sejelas mungkin.

Mengenal Gaya Belajar Anak

Read More
Mengenal Gaya Belajar Anak
Mengenal Gaya Belajar Anak

Tak semua anak cocok dengan model belajar yang dikembangkan di sekolah: duduk tenang, mendengarkan penjelasan guru, dan belajar dengan cara membaca buku. Belajar di kelas dalam bentuk ceramah/kuliah yang dipadukan dengan membaca buku adalah sebuah model belajar yang umum dalam dunia pendidikan di sekolah saat ini. Model belajar yang seperti ini telah lama digunakan oleh jutaan manusia selama bertahun-tahun.

Walaupun banyak orang merasakan efektivitas dari model belajar ini, adalah sebuah realita bahwa tidak seluruh anak cocok dengan model ini. Tidak semua anak suka duduk diam mendengarkan, tidak semua anak mendapatkan informasi dan pengetahuan secara efektif dengan cara membaca buku.

Dulu, kita mengetahui kisah Thomas Alfa Edison yang dikenal sebagai anak yang tidak bisa diam di kelas hingga ibunya kemudian menariknya dari sekolah untuk belajar sendiri di rumah (homeschooling). Di masa lebih modern, kita mendengar cerita Tetsuko Kuronayagi (Totto Chan), yang selalu ingin bercerita dan mengajak bicara orang-orang yang lewat di sebelah sekolahnya. Atau, kita juga membaca penuturan Robert T. Kiyosaki yang bermasalah dengan cara model belajar saat SMA hingga nyaris tidak naik kelas.

Ketiga sosok tersebut dinilai “gagal” untuk beradaptasi dengan model belajar di sekolah umum. Tetapi, ketiga sosok tersebut adalah orang-orang yang berhasil dalam kehidupan profesional dan personalnya. Thomas Alfa Edison adalah penemu besar (great inventor), Tetsuko Kuronayagi adalah produser acara televisi di Jepang dan penulis terkenal, Robert T. Kiyosaki adalah pengusaha dan konsultan bisnis yang sukses.

Ragam Gaya Belajar

Salah satu hal yang mempengaruhi efektivitas belajar anak-anak adalah gaya belajar (learning style) mereka. Walaupun gaya belajar bukan satu-satunya faktor yang mempengaruhi keberhasilan belajar, pemahaman terhadap Gaya Belajar Anak dan stimulus yang sesuai akan meningkatkan efektivitas proses pembelajaran.

Perhatian terhadap variasi Gaya Belajar Anak pada saat ini semakin meningkat  seiring meningkatknya penerimaan terhadap keragaman anak dan potensi individualnya. Masyarakat semakin memahami, bahwa gaya belajar tidak hanya dengan buku pelajaran dan mendengarkan penjelasan guru di kelas. Banyak ragam gaya belajar, demikian pun cara anak menyerap informasi yang bermanfaat   bagi dirinya.

Hingga saat ini, terdapat sekitar 80 jenis teori gaya belajar. Diantaranya adalah model Visual-Auditory-Kinesthetic (VAK) dan Kecerdasan Majemuk (Multiple Intelligences, MI). Model VAK mengkategorikan gaya belajar ke dalam tiga bentuk umum, yaitu Visual Learning (gaya belajar dengan melihat), Auditory Learning (gaya belajar dengan mendengar), dan Kinesthetic Learning (gaya belajar dengan melakukan). Sementara itu, model Kecerdasan Majemuk yang dikembangkan Howard Gardner membuat kategori yang lebih luas, yaitu: Visual (spatial), Aural   (auditory-musical), Verbal (linguistic), Physical (kinesthetic), Logical   (mathematical), Social (interpersonal), dan Solitary (intrapersonal).

Walaupun pengkategorian gaya belajar dibuat untuk membuat distingsi   antar-gaya belajar, tidak berarti bahwa satu anak hanya memiliki satu model belajar. Pada sebagian besar orang, gaya belajar yang dimiliki merupakan kombinasi beberapa kecenderungan dengan penekanan/sisi kuat pada satu atau beberapa aspek.

Mengenali Gaya Belajar

Sebagaimana ditulis oleh Dita, praktisi homeschooling yang juga psikolog yang tinggal di Surabaya, proses perkembangan dan kecenderungan gaya belajar manusia juga dipengaruhi oleh faktor umur. Artinya, ada masa anak-anak memiliki kecenderungan kinestetik, kemudian semakin visual, dan kemudian auditory. Tetapi, tidak sedikit juga orang dewasa yang tetap memiliki kecenderungan gaya belajar dengan cara kinestetik dan visual.

Salah satu hal yang dapat kita lakukan untuk dapat meningkatkan efektivitas kita sebagai orangtua adalah berusaha mengenali gaya belajar anak-anak kita. Proses itu dapat kita mulai dari pengenalan terhadap gaya belajar kita sendiri dan gaya belajar pasangan kita. Pengenalan terhadap gaya belajar pribadi dan pasangan kita akan membantu kita memahami gaya belajar anak-anak kita. Sebab, Gaya Belajar Anak memiliki kecenderungan mirip dengan   orangtuanya.

Proses identifikasi gaya belajar dapat dilakukan dengan mengikuti tes model belajar yang sebagian diantaranya dapat diperoleh gratis di Internet. Proses itu juga dapat dilakukan dengan berkonsultasi secara langsung dengan profesional di bidang psikologi.

Pengenalan terhadap ragam Gaya Belajar Anak adalah salah satu modal untuk membangun sikap empatik. Sebagai orangtua, kita tak lagi memaksakan sebuah gaya belajar tertentu pada anak. Demikian pun, kita tak lagi bingung kala mendapati anak-anak belajar dengan gaya belajar yang berbeda dengan yang kebiasaan kita pada waktu sekolah dahulu.

Mendidik Disiplin pada Balita

Read More
Mendidik Disiplin pada Balita
Mendidik Disiplin pada Balita

Mengajarkan sikap disiplin pada anak merupakan hal yang perlu dilakukan. Memang mengajarkan hal ini tidaklah mudah, apalagi mengajarkannya pada anak usia balita. Lalu bagaimanakah caranya, agar buah hati Anda dapat memiliki kepribadian disiplin sejak kecil? Di bawah ini terdapat beberapa tips Mendidik Disiplin pada Balita yang dapat Anda coba.

Ketika buah hati Anda masih dalam usia bayi, mereka akan memiliki rasa penasaran yang besar terhadap hal-hal yang ada disekitarnya. Jika buah hati Anda sedang mendekati sebuah objek yang berbahaya baginya (tanpa ia sadari), maka yang dapat Anda lakukan adalah dengan lembut mengatakan ‘jangan’ dan mengangkatnya atau menjauhkannya dari objek berbahaya tersebut. Kemudian Anda dapat mengalihkan perhatiannya dengan kegiatan lain atau objek lain kepadanya.

Yang unik dari mengajarkan sikap kedisiplinan, adalah Anda sebagai orang tua dapat mengajarkan dan membiasakannya sejak dini. Hal tersebut tidak harus sesuatu yang sifatnya sangat keras, namun dapat dimulai dengan hal-hal yang kecil. Misalnya dengan Anda berlaku dan memberi contoh yang baik. Sebab pada usia ini, anak-anak cenderung berperilaku mengikuti perilaku orang tuanya (role model).

Selanjutnya bagi Anda yang memiliki buah hati berusia 3 – 5 tahun, Anda dapat melakukan hal-hal berikut ini. Pada usia ini, merupakan saat yang tepat bagi Anda untuk mengkomunikasikan tentang peraturan-peraturan di rumah. Pengenalan terhadap ‘hukuman’ atas perilaku-perilaku yang tidak boleh dilakukan juga dapat diterapkan pada usia ini. Kunci dari menanamkan sikap kedisiplinan pada anak adalah bagaimana orang tua mampu bersikap konsisten terhadap hal-hal yang mereka ajarkan.

Karena itu, jika buah hati Anda melakukan kesalahan, apa lagi sudah berulang-ulang terjadi, Anda tidak perlu ragu untuk memberikan ‘hukuman’ kepadanya. Harus diingat, ‘hukuman’ tersebut hendaknya sudah disosialisasikan kepada buah hati Anda sebelumnya, misalnya disaat pertama kali mereka melakukan kesalahan.

Selanjutnya, ketika mereka melakukan hal yang baik, Anda juga tidak perlu ragu memberikan ‘hadiah’ sebagai tanda penghargaan kepadanya. Dengan begitu ia mengetahui dengan jelas hal-hal mana yang sebaiknya ia lakukan.

Demikianlah tadi ulasan kita kali ini mengenai Mendidik Disiplin pada Balita. Semoga bisa memberikan informasi dan menambah wawasan kita dalam memperhatikan tumbuh kembang buah hati kita. Semoga bermanfaat, Terimakasih.